Indonesia Kuat dengan Swasembada Pangan





Swasembada daging sapi hanya dapat dilaksanakan apabila terjadi sinergi antara semua stakeholder. Sisi utama yang harus dibenahi kerjasamanya adalah pemerintah dan lembaga penelitian. Perlu adanya pergantian undang-undang hingga pola pikir untuk menuju ke arah swasembada. 


Hal itu disampaikan oleh Dr Bambang Suwignyo selaku perwakilan dari Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) dalam Seminar Nasional dengan tema "Indonesia Kuat dengan Swasembada Pangan". Acara merupakan salah satu rangkaian Musyawarah Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (Munas ISMAPETI) ke XV yang diadakan oleh Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Riau di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (5/12). Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Biro Administrasi Umum, dan Perencanaan Keuangan (AUPK) UIN Sultan Syarif Kasim (SUSKA) Riau, Dr. H. Ahmad Supardi, MA.


Bambang menambahkan, saat ini persoalan administrasi yang membebani peneliti masih menjadi masalah klasik, sehingga beban penelitian hanya sebatas pencitraan bukan pada isi. Dan sebagian peneliti masih mempunyai pola pikir bahwa riset berfokus pada publikasi, bukan kebermanfaatan. " Apabila semua pihak dapat bekerjasama, swasembada pangan bukan hanya sekadar angan," kata Bambang. 


Sementara itu Afif Hilmansyah  selaku Pengawas Bibit Ternak  (Wasbitnak) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau dalam presentasinya lebih banyak membahas tentang berbagai sisi yg masih harus ditingkatkan dalam rangka peningkatan produksi sapi. Dan salah satunya dengan memperbaiki manajemen reproduksinya.
 
Afif menjelaskan, salah satu program yang digencarkan oleh pemerintah di Riau yaitu upaya khusus sapi indukan wajib bunting (UPSUS SIWAB) . Data dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau menyebutkan bahwa, target  UPSUS SIWAB dicapai bunting hampir 40 ribu ekor sapi. Hingga saat ini masih tercapai kelahiran sapi 15 ribu ekor. "Wajib lahir 25 ribu ekor pedet lagi, sehingga wajib usaha semakin dioptimalkan," tutur AP.





copyright@2017 agropustaka.id