Jagung Langka, Harga Pakan Ternak Naik Tiga Kali di 2018 Ini





Karena jagung langka, harga pakan ayam pun mengalami lonjakan hingga tiga kali sepanjang tahun ini dengan total kenaikan berkisar antara Rp 600-800/kg. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga jagung kering berkadar air 15%, dengan keaikan lebih dari Rp 1.000/kg. Jagung kering itu digunakan sebagai bahan baku produksi pakan ternak.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo menyebutkan, harga jagung kering terus merangkak naik sepanjang tahun ini dari kisaran Rp 5.000/kg menjadi kisaran Rp 6.000/kg memasuki kuartal IV. Adapun faktor lain yang turut berpengaruh terhadap kenaikan harga pakan adalah fluktuasi pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang sempat menembus Rp 15.200/US$ pada Oktober lalu.

"Harga kita naikkan sekitar Rp 600-800/kg dari awal tahun sampai Desember, dipecah dalam 2-3 kali kenaikan. Penyebabnya karena harga jagung dan juga kurs dolar. Sementara kita masih impor bungkil kedelai hingga 100% karena tidak ada produksi," ujar Desianto dalam DIskusi Forum Agrobisnis 4.0 di Jakarta (13/12/2018). Menurutnya harga normal jagung yang dapat diterima oleh industri pakan adalah di kisaran Rp 3.700-3.800/kg, di mana dengan harga tersebut maka penggunaan jagung akan mencapai 50-55% dari kebutuhan pakan ayam.

"Harga segitu petani sudah untung kok. Harus win-win solution, jangan hanya membantu peternak tapi mengorbankan petani, dan juga sebaliknya. Keduanya kan binaan Kementerian Pertanian," tegasnya. Adapun lonjakan harga yang mencapai Rp 5.800-6.100/kg seperti saat ini telah memaksa pengusaha untuk menurunkan konsumsi jagung ke level 35-40%.

"Ini sudah harga maksimal yang bisa kita tolerir. Produksi pakan di tahun ini kita harapkan mencapai 19,4 juta ton. Dengan hanya 35-40% berarti kebutuhan jagung kita turun, tidak sampai 7 juta ton," jelasnya. Sementara itu, untuk tahun depan produksi pakan diproyeksi berada di kisaran 20,3 juta ton, mengikuti pertumbuhan industri yang dipatok di angka 6-8%. Hal ini tentunya berpengaruh ke kebutuhan jagung yang harusnya juga meningkat.

Ia berharap, harga bisa mulai turun dengan adanya panen jagung mulai akhir Januari - awal Februari di Sumatera Utara, diikuti Lampung di pertengahan Februari dan Jawa Barat di bulan Maret. "Kita lihat nanti tergantung suplai dan harganya, apakah panen tersebut bisa memenuhi kebutuhan normal kita sekitar 600 ribu ton per bulan. Saat ini kita hanya mendapatkan sekitar 450-500 ribu ton per bulan," katanya.

sumber: cnb | editor: anindya




copyright@2017 agropustaka.id