Pentingnya Sertifikasi NKV





Badan organisasi dunia (WHO) telah memprediksi bahwa penduduk dunia pada tahun 2050 akan mencapai 9,8 milyar, dan kebutuhan daging meningkat sebesar 73%. Hal itu harus dijawab dengan pemenuhan suplai daging ayam yang aman, sehat dan utuh melalui pemotongan unggas di luar Rumah Potong Hewan Unggas (RPH-U).

Produk hasil unggas yang diedarkan ke masyarakat di Indonesia harus dilengkapi dengan sertfikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV), sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 381/2005 tentang Pedoman Sertifikasi Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewani. Hal itu diingatkan oleh Kepala Sub Direktorat Higiene Sanitasi dan Penerapan, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen Peternakan Ira Firgorita dalam Pelatihan tentang Manajemen Mutu Rumah Potong Hewan Unggas yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus IPB Darmaga (17/1).

Ira memaparkan, NKV merupakan bukti tertulis sah yang diberikan oleh pejabat otoritas veteriner provinsi yang menyatakan unit usaha produk hewan telah menerapkan cara yang baik secara terus-menerus. Tujuan adanya NKV yakni untuk mewujudkan jaminan produk hewan memenuhi persyaratan aman, sehat, utuh, dan halal bagi yang dipersyaratkan, memberikan perlindungan kesehatan dan ketentraman bathin konsumen produk hewan, meningkatkan daya saing produk hewan domestik, mempermudah pemerintah dan pemerintah daerah dalam melakukan penelusuran balik (traceability) terhadap temuan penyimpangan peredaran produk.

Adapun manfaat sertifikasi NKV menurut Ira yakni, bagi unit usaha dapat memperoleh nilai tambah jaminan keamanan produk dengan mencantumkan label NKV pada produknya untuk bersaing di pasaran. "Bagi pemerintah, merupakan sarana penelusuran sumber produk yang efektif dalam rantai keamanan pangan,"kata Ira Firgorita. AP





copyright@2017 agropustaka.id