Jika membahas tentang perunggasan, maka hal tersebut tidak sekadar membicarakan ayam semata, namun lebih dari itu, kita sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih besar: bagaimana bangsa ini menjamin protein yang aman, terjangkau, berkualitas dan merata -untuk lebih dari 280 juta penduduk Indonesia.
Hal itu disampaikan oleh CMO Haida Ir. Bagus Pekik H, S.Pt., IPU., Asean Eng dalam Seminar Nasional bertajuk “Outlook Perunggasan 2026–2027: Resiliensi, Kedaulatan, dan Keberlanjutan Industri Unggas Nasional” di Yogyakarta, Rabu (22/4). Acara dilaksanakan dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-80, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM).
Lebih lanjut Bagus memaparkan, kalua energi adalah fondasi industry, maka protein adalah fondasi kualitas manusia. Jika bicara protein yang paling diproduksi, paling efisien, paling terjangkau dan paling demokratis, maka jawabannya adalah ayam dan telur.
“Poultry bukan sekadar subsector peternakan. Poultry adalah infrastruktur strategis ketahanan protein bangsa,” ujarnya.
Perunggasan menjadi sangat strategis, karena terdapat empat alas an Utama yakni karena sumber proteinnya yang paling terjangkau, siklus produksinya yang cepat, efek pengganda ekonomi yang besar, dan relevan dengan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.
Protein unggas disebut sebagai yang paling terjangkau karena ayam dan telur adalah sumber protein hewani paling terjangkau dibanding sumber protein lainnya; dalam konteks daya beli masyarakat, perunggasan adalah protein paling inklusif; dan bisa diakses oleh mayoritas rumah tangga Indonesia.
Produksi unggas disebut sebagai memiliki siklus produksi yang cepat, karena unggas memiliki siklus produksi yang cepat dan responsif. Disamping itu, dalam kondisi tekanan inlasi dan ketidakpastian global, maka sektor yang bisa merespon supply-demand cepat adalah kunci stabilitas.
Perunggasan disebut sebagai memiliki efek pengganda ekonomi, karena di belakang satu ekor ayam terdapat ekosistem besar: petani jagung, pabrik pakan, breeding, hatchery, farm, dokter hewan, RPHU, logistic, cold chain, retail, UMKM kuliner -yang semuanya itu membangun industri perunggasan yang sekaligus pula turut membangung ekonomi rakyat.
Perunggasan juga disebut memiliki relevansi kuat dengan SDM, hal tersebut dikarenakan protein hewani yang cukup dan terjangkau berkaitan langsung dengan: kualitas tumbuh kembang anak, pencegahan stunting, kapasitas belajar, produktifitas tenaga kerja, dan kualitas generasi masa depan. Dan, bonus demografi yang dimiliki Indonesia membutuhkan pula bonus protein. AP



