Mengawal Investasi Rp 20 Triliun Danantara—Mengapa Keahlian Nutrisi dan Bungkil Sawit Adalah Kunci?

Agropustaka.id, Pemikiran. Rencana ambisius pemerintah melalui BPI Danantara untuk membangun 12 pabrik pakan dan fasilitas Day Old Chick (DOC) terintegrasi adalah langkah berani untuk memutus rantai oligopoli perunggasan.

Namun, sejarah mencatat bahwa proyek negara dengan kapital besar sering kali kandas bukan karena kekurangan dana, melainkan karena inefisiensi teknis dan kegagalan dalam beradaptasi dengan dinamika industri. Di sinilah peran Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) serta optimalisasi bahan baku lokal seperti bungkil inti sawit (Palm Kernel Meal/PKM) menjadi instrumen mitigasi risiko yang tidak bisa ditawar.

Kehadiran 12 pabrik pakan milik negara akan sia-sia jika produk yang dihasilkan tidak mampu bersaing secara kualitas dengan perusahaan integrator swasta. Peternak mandiri sangat rasional; mereka hanya akan menyerap pakan jika angka Feed Conversion Ratio (FCR) kompetitif. AINI, sebagai wadah pusat rujukan nasional bagi para ahli nutrisi, memegang kunci dalam diseminasi teknologi formulasi pakan yang presisi.

Kolaborasi strategis antara Danantara dan AINI dapat berfungsi sebagai “jembatan” untuk memecahkan masalah kompleks terkait nutrisi ternak yang selama ini hanya dikuasai secara tertutup oleh departemen R&D perusahaan besar. AINI dapat memberikan asistensi teknis dalam penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) terbaru yang lebih adaptif terhadap ketersediaan bahan baku lokal, memastikan bahwa pakan produksi negara tetap memiliki performa tinggi meski menggunakan substitusi komponen impor.

Salah satu risiko terbesar program ini adalah ketergantungan kronis pada bungkil kedelai (Soybean Meal/SBM) impor yang pasokannya mencapai 5,5 juta ton per tahun. Untuk memitigasi fluktuasi harga global, optimalisasi bungkil inti sawit (BIS/PKM) adalah sebuah keharusan strategis, mengingat Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar dunia dengan ketersediaan PKM yang sangat melimpah namun belum dimanfaatkan secara maksimal untuk unggas.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa PKM memiliki kandungan protein kasar yang potensial (14–19%), namun memiliki keterbatasan berupa serat kasar yang tinggi. Di sinilah intervensi keahlian nutrisi dari AINI menjadi krusial. Melalui pemanfaatan teknologi enzim (seperti b-mannanase) atau proses fermentasi dengan bakteri Bacillus cereus, daya cerna PKM bagi ayam pedaging dapat ditingkatkan secara signifikan tanpa mengganggu kesehatan saluran cerna. Dengan porsi penggunaan PKM hingga 10–15% dalam ransum, biaya pakan dapat ditekan jauh lebih rendah dibandingkan formula standar berbasis SBM.

Agar tidak menjadi “proyek mercusuar” yang membebani APBN, Danantara harus mengadopsi model manajemen profesional dengan melibatkan asosiasi profesi dalam pengawasan kualitas. Sinergi ini diperlukan untuk mengawal transparansi formulasi—sebuah langkah yang selama ini sulit dilakukan di sektor swasta yang bersifat closed-loop. Langkah taktis yang direkomendasikan adalah:

  1. Pusat Riset Terpadu: Membangun laboratorium nutrisi bersama AINI di setiap titik pabrik pakan untuk memastikan kontrol kualitas bahan baku (terutama deteksi mikotoksin pada jagung lokal) dilakukan secara harian.
  2. Hilirisasi PKM: Mewajibkan 12 pabrik pakan Danantara untuk memiliki unit pengolahan PKM (fermentasi/enzimatik) agar mampu menyerap limbah industri sawit di wilayah Sumatera dan Kalimantan secara masif.
  3. Kemitraan Teknis: Memberikan ruang bagi AINI untuk memberikan pelatihan kepada peternak mandiri mengenai manajemen pemberian pakan, sehingga efisiensi di pabrik juga diikuti oleh efisiensi di kandang.

Investasi Rp 20 triliun adalah modal fisik, namun ilmu nutrisi adalah “otak” yang akan menjalankan mesin tersebut. Tanpa keterlibatan aktif para ahli dari AINI untuk mengoptimalkan komoditas strategis seperti bungkil sawit, pabrik-pabrik pakan Danantara berisiko menjadi monumen inefisiensi yang gagal menghadapi keandalan swasta.

Sebaliknya, dengan sentuhan sains dan kemandirian bahan baku lokal, program ini akan menjadi jangkar kedaulatan pangan yang sejati bagi peternak rakyat Indonesia. **

Penulis:
Wahyu Darsono, Ketua Bidang Kerjasama Industri dan Komoditas Strategis DPP AINI