Agropustaka.id, Info. Telur merupakan komoditas strategis yang berperan penting dalam pemenuhan protein hewani masyarakat. Dan mutu produk hasil unggs yakni telur tidak hanya ditentukan oleh aspek harga, tetapi juga keamanan, gizi, dan standar distribusi.
“Telur bukan sekadar bahan pangan murah, tetapi juga pilar ketahanan pangan dan upaya percepatan penurunan stunting. Karena itu, aspek mutu, keamanan, dan keberlanjutan produksi harus menjadi perhatian utama,” ujar Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Kementan, Makmun, dalam sebuah webinar tentang mutu telur pada beberapa waktu yang lalu.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, konsumsi telur masyarakat Indonesia mencapai 22,16 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat konsumsi telur tertinggi di ASEAN, sekaligus masuk jajaran empat besar produsen telur dunia dengan total produksi sekitar 6,6 juta ton per tahun.
Namun, tingginya konsumsi tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman konsumen. Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Niti Emiliana, menyoroti minimnya pengetahuan masyarakat terkait standar mutu dan label Nomor Kontrol Veteriner (NKV). “Konsumen berhak mendapatkan produk yang sehat, bebas cemaran, dan transparan asal-usulnya. Edukasi publik masih harus diperkuat,” tegasnya.
Dari sisi akademisi, Tuti Suryati, Dosen Fakultas Peternakan IPB menjelaskan bahwa mutu telur dipengaruhi faktor internal seperti genetik, umur, dan kesehatan ayam, serta faktor eksternal seperti pakan, manajemen kandang, distribusi, dan penyimpanan. “Semua itu akan memengaruhi kesegaran, kualitas gizi, hingga umur simpan telur,” jelasnya.
Tingginya konsumsi telur di Indonesia harus dibarengi kesadaran akan mutu. Telur aman dan bergizi bukan sekadar pilihan pasar, melainkan investasi bagi kesehatan generasi dan ketahanan pangan. Dengan konsumen cerdas dan produsen bertanggung jawab, telur dapat menjadi pilar ketahanan pangan dan perbaikan gizi bangsa. AP/PKH



